December 22, 2025

Kenapa Konten Horor Jadi Komoditas Paling Gampang Viral di Indonesia

Scroll TikTok jam 11 malam.Satu video horor lewat.Kamu tahu itu mungkin setting-an, mungkin dramatis, mungkin "kok kayaknya terlalu pas kameranya?" , tapi tetap ditonton sampai habis.

Bahkan seringnya: ditonton lebih dari sekali.

Di Indonesia, konten horor bukan sekadar genre hiburan. Ia sudah berubah jadi komoditas atensi. Murah diproduksi, kuat secara emosi, dan hampir selalu ramah algoritma.

Buat creative marketing agency, ini bukan soal “ikut-ikutan horor”, tapi soal memahami kenapa otak audiens Indonesia sangat reseptif terhadap narasi ketakutan.

Horor Itu Dekat dengan Budaya, Bukan Tren Baru

Indonesia tidak pernah benar-benar asing dengan cerita horor.

Sejak dulu kita tumbuh dengan:

  • Cerita hantu dari orang tua
  • Urban legend kampung sebelah
  • Larangan maghrib yang selalu dibungkus misteri
  • Acara TV horor prime time

Bedanya sekarang cuma satu: medianya pindah ke layar vertikal.

Konten horor hari ini tidak perlu efek CGI atau produksi mahal. Yang dibutuhkan hanya:

  • Cerita yang terasa "mungkin"
  • Lokasi yang relatable
  • Narasi yang pelan tapi bikin penasaran

Karena horor paling efektif bukan yang paling seram, tapi yang paling masuk akal buat dipercaya.

Psikologi Audiens: Takut Tapi Penasaran

Ada paradoks menarik di perilaku audiens Indonesia:

Kita tidak suka takut.Tapi kita sangat tidak tahan untuk tidak tahu.

Konten horor bekerja di wilayah ini.

Secara psikologis, horor memicu:

  • Anticipatory anxiety (menunggu sesuatu terjadi)
  • Curiosity gap (otak ingin penutupan cerita)
  • Social fear ("kalau gue skip, gue ketinggalan")

Makanya format paling laku hampir selalu:

  • Cerita berseri
  • POV kamera
  • Rekaman "kejadian"
  • Voice over datar
  • Ending menggantung

Bukan kebetulan. Ini desain narasi yang sangat selaras dengan cara kerja otak.

Algoritma Suka Horor, Tapi Bukan Karena Seramnya

Banyak yang bilang: "Algoritma suka konten horor."

Sebenarnya lebih tepat: algoritma suka perilaku audiens yang dihasilkan horor.

Konten horor cenderung menghasilkan:

  • Watch time tinggi
  • Completion rate tinggi
  • Rewatch
  • Share ke grup ("eh nonton ini deh")
  • Komentar spekulatif

Bagi algoritma, itu sinyal konten sehat.

Bukan horornya yang diprioritaskan, tapi retensi dan interaksi yang konsisten.

Storytelling & Cliffhanger: Senjata Utama

Perhatikan kreator horor yang konsisten viral.Jarang ada jump scare.

Yang ada justru:

  • Build-up pelan
  • Detail kecil yang "aneh"
  • Kalimat penutup: "gue baru sadar setelah edit"

Ini bukan kebetulan. Ini teknik cliffhanger klasik.

Cliffhanger bekerja karena:

  • Otak membenci cerita yang tidak selesai
  • Audiens terdorong follow demi part berikutnya
  • Komentar jadi arena teori bersama

Horor modern di platform digital adalah cerita kolaboratif.Audiens ikut membangun rasa takutnya sendiri.

Kenapa Mudah Naik & Konsisten Views?

Karena konten horor memenuhi tiga syarat emas konten viral:

  1. Relatable secara budaya
  2. Murah secara produksi
  3. Kaya secara emosi

Tidak perlu artis.Tidak perlu set mahal.Tidak perlu brand besar.

Yang penting: cerita terasa dekat.

Dan kedekatan adalah mata uang paling mahal di era algoritma.

Lalu, Apakah Brand Bisa Ikut Main di Wilayah Ini?

Jawaban pendeknya: bisa, tapi sangat tidak semua brand cocok.

Brand sering salah kaprah.Mengira horor = kostum pocong + musik tegang.

Padahal yang bekerja bukan visual horornya, tapi narasi emosionalnya.

Brand yang berpotensi masuk:

  • Brand dengan DNA storytelling kuat
  • Brand yang berani bermain di atmosfer
  • Brand yang tidak terlalu hard-selling

Pendekatan yang lebih aman dan relevan:

  • Suspense, bukan horor eksplisit
  • Misteri, bukan teror
  • Cerita manusia, bukan hantu

Contoh penerapan:

  • Campaign berbasis urban legend versi brand
  • Serial konten dengan misteri ringan
  • Aktivasi komunitas dengan cerita lokal

Horor bisa jadi vehicle, bukan pesan utama.

Catatan Penting untuk Brand & Agency

Ada garis tipis antara:

  • Menarik
  • Menyesatkan
  • Eksploitatif

Audiens Indonesia makin cerdas.Sekali brand terasa manipulatif atau memanfaatkan ketakutan secara murahan, trust bisa runtuh cepat.

Karena itu, horor sebagai strategi harus:

  • Jujur secara narasi
  • Sensitif secara budaya
  • Bertanggung jawab secara pesan

Insight Penutup

Konten horor viral di Indonesia bukan karena kita suka hal mistis.

Tapi karena:

  • Kita tumbuh dengan cerita
  • Kita menikmati rasa penasaran bersama
  • Kita suka berdiskusi, berspekulasi, dan merasa "ikut mengalami"

Bagi creative marketing agency, pelajaran terbesarnya bukan soal horor.

Melainkan ini:

Konten paling kuat selalu bermain di emosi paling dasar manusia.Takut hanyalah salah satunya.

Dan brand yang menang bukan yang paling berani menakut-nakuti,

Tapi yang paling paham cara bercerita.

dominate scrolls

own the markets

your audience isn't waiting

let's chat

dominate scrolls

own the markets

your audience isn't waiting

let's chat