Belajar dari Thailand: Bagaimana Mereka Mengubah Insight Sederhana Menjadi Cerita yang Mengena di Hati

Dalam dunia periklanan modern, ada satu negara di Asia Tenggara yang hampir selalu menjadi rujukan ketika berbicara soal storytelling: Thailand. Dari iklan asuransi yang membuat kita berkaca-kaca, hingga iklan mie instan yang absurd namun relatable, Thailand berhasil membuktikan bahwa cerita yang kuat tidak harus rumit, yang penting manusiawi.
Menariknya, banyak dari ide mereka sebenarnya berasal dari insight yang sederhana. Tetapi cara mereka mengolah insight itulah yang membedakan iklan Thailand dari negara lain, termasuk Indonesia. Artikel ini mengajak kita melihat bagaimana Thailand mengubah hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari menjadi cerita yang membekas.
1. Insight Mereka Selalu Dekat dengan Kehidupan Sederhana
Kalau diperhatikan, banyak iklan Thailand tidak berbicara soal fitur produk, teknologi inovatif, atau promo besar-besaran. Sebaliknya, mereka mengambil hal-hal kecil:
- kebaikan kecil pada orang asing,
- hubungan orang tua–anak,
- keseharian pekerja,
- mimpi remaja yang sederhana,
- drama kehidupan yang universal.
Contohnya, Thai Life Insurance: hampir semua kampanyenya memakai insight yang dekat dengan kehidupan nyata. Bukan tentang polis asuransi, tetapi tentang value hidup—empati, keluarga, pengorbanan.
Insight sederhana + konflik manusiawi = resep yang jarang gagal.
2. Cerita Dimulai dari Emosi, Bukan Produk
Salah satu perbedaan paling menonjol antara iklan Thailand dan Indonesia adalah urutan berpikirnya.
- Indonesia: mulai dari produk → lalu cari insight → baru cari pesan emosional.
- Thailand: mulai dari emosi → lalu insight → dan produk hanya sebagai “sentuhan terakhir”.
Dengan pendekatan ini, penonton merasa seperti sedang menonton short film, bukan iklan. Produk tidak dipaksa masuk di tengah-tengah cerita, melainkan muncul secara halus di akhir sebagai penutup yang natural.
Ini yang membuat storytelling mereka terasa mulus, tidak “jualan banget”.
3. Karakter yang Humanis dan Jauh dari Stereotip
Banyak iklan Thailand menggunakan karakter yang imperfect, orang biasa dengan masalah nyata. Tidak glamor, tidak hiperbola, tetapi relevan.
Karakter seperti:
- paman penjaga toko,
- remaja yang canggung,
- ibu pekerja yang lelah,
- pria yang suka membantu tapi dianggap konyol.
Karakter-karakter ini membuat penonton merasa, “Ini tuh gue banget.”
Sementara banyak iklan di Indonesia masih cenderung memakai representasi ideal: keluarga harmonis, rumah rapi, orang yang selalu ceria, yang jauh dari realitas sebagian besar orang.
4. Humor dan Haru yang Menyatu Tanpa Dipaksakan
Iklan Thailand punya “DNA” unik: emosi yang berubah secara cepat namun natural. Dalam waktu 60–90 detik, mereka bisa membuat penonton tertawa, lalu tiba-tiba merasa terharu.
Perpaduan ini efektif karena mengikuti ritme kehidupan nyata: kadang lucu, kadang sedih, kadang absurd, kadang hangat.
Contoh paling sering adalah iklan makanan atau FMCG Thailand, yang memakai humor absurd tapi tetap berangkat dari insight nyata: keinginan untuk diterima, rasa iri, atau kecanggungan sosial.
Inilah yang membuat ceritanya mudah diingat dan mudah dibagikan.
5. Mereka Memahami Budaya “Kehangatan Sosial”
Thailand dikenal sebagai negara dengan nilai sosial tinggi:
- gotong royong,
- menghormati orang tua,
- interaksi hangat antar tetangga,
- gestur kecil yang penuh empati.
Nilai ini sering muncul dalam iklan mereka dan menjadi kunci storytelling yang humanis.
Indonesia sebenarnya memiliki budaya serupa, tapi tidak selalu muncul dalam iklan. Sering kali, iklan kita lebih fokus pada estetika visual atau pesan rasional, bukan kedalaman emosi.
6. Insight Sederhana, Eksekusi Berani
Satu hal yang membedakan Thailand adalah keberanian mereka untuk mengambil risiko dalam cara bercerita.
Mereka tidak takut:
- membuat cerita sangat sederhana,
- menggunakan twist yang dramatis,
- menampilkan karakter non-ideal,
- atau mengeksplor absurd komedi.
Insight yang sederhana bisa menjadi sangat powerful ketika eksekusinya tidak ditahan oleh rasa takut “nanti brand terlihat tidak elegan”.
Dan inilah yang membuat iklan Thailand menonjol.
7. Apa yang Bisa Dipelajari Creative Agency?
Beberapa hal yang bisa diadopsi tanpa harus “menjadi Thailand”:
- Mulailah dari emosi → baru insight → baru produk.
- Berikan ruang bagi karakter yang natural dan tidak sempurna.
- Anggap penonton sebagai manusia, bukan target market.
- Jangan takut mengambil risiko storytelling.
- Manfaatkan budaya lokal sebagai fondasi cerita.
Insight sederhana bisa menjadi karya yang besar, asal digarap dengan kedalaman rasa.
Penutup
Iklan Thailand bisa begitu mengena karena mereka memahami satu hal penting: manusia tidak mengingat brand, tetapi mengingat perasaan.
Dan perasaan itu lahir dari cerita-cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan kita.
Dengan belajar dari cara Thailand mengolah insight menjadi cerita, creative agency di Indonesia juga punya peluang besar untuk menghasilkan iklan yang bukan hanya viral, tetapi juga menyentuh hati—dan itu jauh lebih berharga dalam jangka panjang.
recent news



