December 12, 2025

Culture-Driven Storytelling: Bagaimana Nilai Sosial Thailand Membentuk Iklan Mereka yang Humanis

Kalau kita bicara tentang iklan Thailand, ada satu ciri yang hampir selalu muncul: humanity. Bukan sekadar pesan produk, bukan sekadar visual yang indah, tapi cerita-cerita yang terasa dekat, hangat, dan kadang tiba-tiba bikin kita terdiam. Banyak negara punya iklan bagus, tapi Thailand punya sesuatu yang berbeda: mereka mengajak kita merasakan kehidupan.

Mengapa bisa begitu? Jawabannya ada pada budaya mereka, dari cara hidup, nilai sosial, dan gaya bercerita yang sudah melekat dalam keseharian, lalu berubah menjadi “senjata rahasia” di dunia periklanan.

Mari kita bahas dari sisi budaya yang paling memengaruhi storytelling mereka.

1. Budaya Kolektivisme: Cerita Selalu Tentang “Kita”, Bukan “Aku”

Thailand dikenal dengan budaya kolektif yang kuat. Nilai-nilai kebersamaan, empati, dan hubungan antar manusia sangat ditekankan.
Hal ini membuat brand di sana cenderung menyoroti:

  • hubungan keluarga,
  • bantuan antar orang asing,
  • solidaritas,
  • dan kebaikan kecil yang menggerakkan hati.

Contoh paling ikonik tentu saja Thai Life Insurance. Iklan mereka jarang membahas asuransi secara teknis, justru fokus pada kehidupan: seorang pria yang menolong seorang ibu, seorang anak yang merawat ayahnya, atau orang biasa yang berbuat baik tanpa pamrih.

Yang dijual bukan produk, tapi nilai yang mencerminkan siapa penontonnya.

Di Indonesia, iklan dengan nuansa kebersamaan juga ada, tapi Thailand membawanya ke level yang lebih emosional dan konsisten. Mereka tidak ragu membuat penonton menangis sebelum menunjukkan brand di detik terakhir.

2. Humor Thailand: Absurd Tapi Tetap Manusiawi

Humor adalah bagian penting dalam budaya hiburan Thailand. Drama TV, variety show, dan komedi mereka cenderung:

  • absurd,
  • berlebihan,
  • tidak takut terlihat “konyol”,
  • dan sangat menghibur.

Nilai ini terlihat jelas di banyak iklan viral mereka.
Misalnya, iklan snack atau obat yang penuh adegan random, ekspresi dramatis, hingga plot twist yang tidak bisa ditebak.

Tapi, meski absurd, humornya tetap manusiawi. Mereka tidak mengejek orang, tapi situasi. Dan ini membuat humor mereka terasa ringan, universal, dan tidak menyakiti.

Di Indonesia, humor iklan cenderung lebih aman, lebih scripted, atau mengikuti pola tertentu. Sementara Thailand terbiasa menembus batas sehingga lebih fresh dan memorable.

3. “Karma Mindset”: Pesan Moral Selalu Tersirat

Thailand punya nilai budaya yang erat dengan prinsip karma, bahwa setiap tindakan akan kembali ke pelakunya.
Inilah yang membuat banyak iklan Thailand memilih bercerita dengan:

  • pesan moral,
  • konsekuensi tindakan,
  • nilai kebaikan yang kembali dengan cara tak terduga.

Contohnya, masih dari Thai Life Insurance, tentang pria yang berbuat baik tanpa mengharapkan apa pun tapi akhirnya mendapatkan sesuatu yang tidak ternilai.

Ini bukan kebetulan, tapi refleksi dari nilai hidup masyarakat Thailand. Pesan moral membuat cerita terasa “mengena”, bukan sekadar dramatis.

4. Kedekatan Dengan Realitas Sehari-Hari

Iklan Thailand hampir selalu mengambil cerita dari kehidupan yang sangat sederhana:

  • penjual makanan,
  • anak sekolah,
  • tetangga,
  • petugas restoran,
  • atau orang asing yang lewat.

Mereka tidak butuh premis besar. Yang penting adalah relasi antar manusia dan momen kecil yang punya resonansi emosional besar.

Indonesia pun punya budaya storytelling yang kuat, tapi seringkali iklan kita masih “terlalu brand-minded”: harus menyebutkan benefit, fitur, value proposition.
Sementara Thailand percaya bahwa cerita bagus akan membuat merek diingat, bahkan tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.

5. Kearifan Lokal yang Dibawa Secara Modern

Kultur Thailand kaya dengan:

  • keramahan,
  • rasa hormat,
  • spiritualitas,
  • dan ritual kecil sehari-hari.

Menariknya, iklan Thailand tidak menampilkan budaya ini secara kaku. Mereka membungkusnya dalam storytelling modern yang relatable. Ini membuat iklannya tidak hanya menyentuh masyarakatnya sendiri, tapi juga relevan secara global.

Tidak heran banyak iklan Thailand sering viral lintas negara, termasuk di Indonesia.

Kenapa Pendekatan Ini Efektif?

Karena manusia pada dasarnya suka cerita yang:

  • dekat,
  • jujur,
  • menyentuh,
  • dan terasa “nyata”.

Budaya Thailand memberi fondasi kuat untuk menghadirkan cerita seperti ini secara konsisten. Dan ketika nilai budaya bertemu strategi kreatif, hasilnya adalah iklan-iklan yang:

  • mudah diingat,
  • mudah diterima,
  • dan sulit ditinggalkan.

Penutup: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Iklan Thailand bukan sekadar konten sedih atau lucu. Mereka adalah cerminan budaya yang diterjemahkan menjadi storytelling.

Dari Thailand, kita belajar bahwa:

  • insight sederhana bisa jadi cerita besar,
  • kultur adalah sumber kreativitas tak terbatas,
  • human connection lebih kuat daripada hard selling.

Pada akhirnya, iklan terbaik bukan yang paling teknis.
Tapi yang paling manusiawi.

dominate scrolls

own the markets

your audience isn't waiting

let's chat

dominate scrolls

own the markets

your audience isn't waiting

let's chat