Top 5 Fashion Brand Indonesia yang Perlu Diantisipasi di 2026: Bukan Sekadar Populer, Tapi Paling Siap Menang Secara Marketing

Di 2026, fashion Indonesia tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling sering muncul di billboard atau siapa yang paling cepat kolaborasi dengan selebritas. Pertarungan sesungguhnya terjadi di level yang lebih dalam: siapa yang paling relevan secara budaya, paling hidup secara komunitas, dan paling paham cara berbicara dengan Gen Z tanpa terdengar seperti brand.
Berikut lima fashion brand Indonesia yang perlu diantisipasi, bukan karena mereka sekadar besar, tapi karena cara mereka bermain marketing menunjukkan kesiapan menghadapi era berikutnya.
1. Erigo: Dari “Brand Traveling” ke Mesin Narasi Mass Culture
Erigo sudah lama melampaui status “brand lokal sukses”. Di titik ini, Erigo adalah studi kasus tentang bagaimana brand membangun kontinuitas narasi.
Kenapa Erigo relevan di 2026:
- Konsisten memposisikan diri sebagai brand yang movement-driven, bukan seasonal hype.
- Penggunaan global exposure (NYFW, international campaign) bukan sebagai flex, tapi sebagai validasi narasi lokal yang naik kelas.
- Kuat di omni-channel: marketplace, social, offline experience, hingga campaign outdoor.
Kekuatan marketing utama:
Erigo paham bahwa Gen Z tidak sekadar membeli produk, mereka membeli perjalanan brand. Story “anak lokal go global” masih relevan, tapi yang membuat Erigo bertahan adalah kemampuan mengemas repetisi tanpa terasa membosankan.
Tantangan 2026:
Menjaga agar skala besar tidak menghilangkan rasa “dekat” dan autentik.
2. Screamous: Ketika Streetwear Berhenti Berteriak dan Mulai Bicara Value
Di tengah streetwear yang sering terlalu berisik, Screamous justru memilih jalur yang lebih tenang tapi strategis.
Kenapa Screamous layak diantisipasi:
- Konsistensi estetika dan positioning sejak awal.
- Tidak mengejar hype jangka pendek, tapi membangun brand maturity.
- Mulai bergerak dari “brand apparel” ke “brand taste”.
Kekuatan marketing utama:
Screamous memanfaatkan long-term brand equity. Mereka tidak menjual “tren minggu ini”, tapi gaya hidup urban yang terasa stabil dan dewasa, sesuatu yang justru dicari Gen Z yang mulai lelah dengan overhype.
Tantangan 2026:
Menarik Gen Z baru tanpa mengkhianati DNA brand yang sudah kuat.
3. Buttonscarves: Fashion Brand yang Mengerti Power of Community as Media
Buttonscarves bukan hanya brand fashion muslim. Ia adalah ekosistem komunitas yang rapi dan terkurasi.
Kenapa Buttonscarves krusial di 2026:
- Community-first marketing yang konsisten.
- Event offline sebagai perpanjangan digital experience.
- Founder-led brand yang berfungsi sebagai living brand asset.
Kekuatan marketing utama:
Buttonscarves memahami bahwa komunitas bukan channel, komunitas adalah media. Engagement mereka bukan angka, tapi partisipasi nyata.
Tantangan 2026:
Menjaga eksklusivitas tanpa terjebak menjadi terlalu segmented.
4. Thanksinsomnia: Ketika Brand Berubah Jadi Cultural Signal
Thanksinsomnia tidak mencoba menyenangkan semua orang, dan justru di situlah kekuatannya.
Kenapa Thanksinsomnia patut diperhitungkan:
- Brand voice yang kuat dan konsisten.
- Relevan dengan kultur musik, seni, dan subculture urban.
- Tidak menjual produk, tapi identitas emosional.
Kekuatan marketing utama:
Thanksinsomnia memahami bahwa di era Gen Z, fashion adalah bahasa sosial. Mereka tidak menjelaskan brand mereka, mereka membiarkan audiens yang menjelaskannya satu sama lain.
Tantangan 2026:
Scale-up tanpa kehilangan edge dan sense of “insider culture”.
5. Eiger: Rebranding yang Menunjukkan Bahwa Legacy Bisa Adaptif
Eiger adalah contoh bahwa brand lama tidak harus kalah oleh brand baru.
Kenapa Eiger relevan di 2026:
- Berhasil memodernisasi positioning tanpa memutus akar.
- Masuk ke lifestyle & urban exploration, bukan sekadar outdoor gear.
- Mulai memahami storytelling visual dan social relevance.
Kekuatan marketing utama:
Eiger mengubah fungsi produk menjadi simbol gaya hidup. Ini krusial di era di mana Gen Z lebih tertarik pada “what this says about me” daripada spesifikasi teknis.
Tantangan 2026:
Menjaga keseimbangan antara legacy audience dan generasi baru.
Apa Benang Merah Marketing Fashion Indonesia Menuju 2026?
Dari kelima brand di atas, terlihat jelas satu pola besar:
- Marketing tidak lagi soal kampanye, tapi kontinuitas cerita
- Community mengalahkan reach
- Cultural relevance lebih penting daripada endorsement besar
- Brand voice yang jelas lebih bernilai daripada viral sesaat
Fashion brand yang akan menang di 2026 bukan yang paling keras beriklan, tapi yang paling dipahami, paling dirasakan, dan paling dianggap “punya posisi” oleh audiensnya.
Di titik ini, marketing bukan lagi soal menjual pakaian.
Marketing adalah soal menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi yang paling skeptis terhadap brand, tapi paling loyal ketika mereka percaya.
recent news



